Grateful

Assalamualaikum. Setiap balik ke blog, udah lama banget jaraknya. Amitiran dan ndak istiqomah hehehehe

Setelah balik blog, ternyata udah ganti status, dari single ke bersuami. Alhamdulillah, naik satu tingkatan untuk tanggung jawab baru, ladang ibadah baru.

Memulai dari nol bersama sama, mandiri tanpa bergantung sama orang tua, pastinya akan banyak kebutuhan yang dibeli bersama. Dengan kondisi stelah keperlua pernikahan, hmm harus pilih pilih prioritas mana barang yang urgent dan harus dibeli duluan. Pusing? Sebenernya agak agak, karena kondisi bekerja diluar rumah, bantuan beberapa alat rumah tangga akan sangat membantu tugas istri untuk lebih efisien dan produktif. Kudu cepat untuk ngurus keperluan rumah dan keperluan suami, tapi tetep ontime ditengah kemacetan kota. Semua tanggung jawab kudu balance :)

Di era yang serba memudahkan, jiwa emak emak yang mesti pengen beli ini itu dengan “mudahnya”, padahal budget terbatas, tapi pengennya banyak, kredit dan cicilan kadang jadi solusi singkat. Nyicil terbayang begitu meringankan. Tapi kalau belajar lagi, berpikir berkali kali untuk ngambil kredit sekecil apapun bunganya. Seringnya, kok ndak sreg ya. Rasanya kayak meremehkan kalau allah nggak bakal ngasih rejeki cukup. Dan ternyata, semuanya masih tetep bisa kehandle kok.
Trus mikir mikir lagi, kalau allah udah baik banget, mencukupkan banget. Entah bagaimana caranya, ada aja rejeki dari allah yang mencukupkan. Memilihkan tempat tinggal dengan lingkungan yang mashaa allah baik banget. Tempat kerja yang kondusif banget buat tetep ibadah.

Alhamdulillah, kalau dipikir piker lagi, sebenenrnya nggak kekurangan apa apa kok. Masih bisa makan enak, tanpa mikir, makanan catering RS variatif dan enak banget. Masak Alhamdulillah, sedikit sedikit keahlian masak udah upgrade.

Kendaraan yang tetep gesit meskipun udah bertahun tahun. Ngrasa tetep cukup sama jumlah baju, setelah prinsip decluttering marie kondo (ditulis kapan kapan review bukunya).

Hmm, intinya, sekarang lagi ngrasa bersyukur bangeet J

                                     

Bergerak

Pernah nggak sih,  ngrasa banyak punya waktu luang tetapi ngrasa ada yang kurang. Rasanya stagnan, hambar, begah.
Rasanya diam justru jadi lelah. Diam justru tak berenergi.
Saya rasa,  manusia memang fitrah nya untuk selalu bergerak. Tapi arah gerak juga menentukan, mau bergerak yang membuahkan banyak manfaat,  atau bergerak untuk keburukan.
Cara bergerak juga menentukan,  bergerak yang sinergi dan istiqomah atau gerak yg tak beraturan.
Entah itu perempuan atau laki laki,  saya rasa bergerak adalah kebutuhan.  Kebutuhan untuk menjadi lebih baik dan bergerak untuk memberi manfaat.
Dan bergerak enaknya bareng bareng, saling nyemangatin dan mengingatkan. Nggak kudu harus punya suami dulu, sahabat atau orang yang tak sengaja ketemu dijalan bisa jadi penggeraknya.
Saya inget dulu, waktu koas anak jam 2 malam, jalan sendirian di lorong mau ngikutin SC, kondisi udah capek banget,  sampai mau nangis. Eh,  ada residen yang saya tau namanya tak begitu dekat. Tiba tiba nyamperin dan ngasih semangat. Rasanya nyes banget..

Jadi, jangan lelah menyemangati diri sendiri buat tetep bergerak. Karena tanda bahaya adalah,  ketika kita sudah nyaman dengan ke"leha leha " an kita.



Berproses Itu Indah

 “ Nak, hidup akan selalu terasa sulit bagi mereka yang tidak mau menghadapi kenyataan. Kenyataan bahwa hidup tidak akan pernah mudah. Kenyatan bahwa keberhasilan tidak akan pernah tercapai dengan bermalasan dan mengeluh. Kenyataan bahwa kebahagiaan itu diupayakan bukan dibeli. Kenyataan bahwa pendidikan itu meletihkan, tapi ialah yang meninggikan derajat kemuliaan manusia. Kenyataan bahwa yang diimpikan tidak selalu sesuai ekspektasi. Kenyataan bahwa mencari uang itu butuh perjuangan, tidak Cuma minta orang tua seperti selama ini. Kenyataan bahwa pasangan yang baik itu diupayakan bersama, bukan datang dengan sendirinya. Kenyataan bahwa hidup di luar rumah itu penuh ancaman. Dan hidup selalu tidak akan pernah mudah bagi mereka yang sibuk berangan, berekspektasi, dan membanding bandingkan dirinya dengan orang lain. Dan hidup terasa lebih sulit lagi bagi mereka yang tidak bisa bersyukur. (Kurniawan Gunadi)
                Inspirasi pagi ini dapat dari kang gun, bahwa hidup butuh perjuangan, bahwa hidup akan melewati proses. Masa masa transisi seringkali menjadi tantangan, di lingkungan baru, memulai dari bawah. Pengennya mengeluh, pengennya langsung jadi, pengennya semuanya langsung ketata. Padahal sabar dan gigih dalam berproses lah yang membuat kita jadi lebih matang, dewasa, tambah sabar dan belajar.

Inget banget, waktu awal awal lepas dari digaji pemerintah, rasanya drop karena lingkungan baru jauh banget berbeda. Dan rasanya cengok, karena masa masa dimana tinggal kerja dan ndak mikir gaji, ternyata masih aja ndak beryukur. Nah kan..


Berproses itu indah, kalau diingiri dengan sabar dan syukur. Dan kata ust syatori, 

Jalani apapun yang ada dihidup ini dengan iman. 

Karena dengan iman, berproses, meski sulit, akan dilewati dengan semangat penuh perjuangan.Dan bersabarlah dalam juang, maka akan kau dapat manisnya kebahagiaan (Ferika). 


Another point of view of being human

Di media sosial era ini, akan sangat mudah menjadi orang yang tidak bersyukur. ada banyak kesempatan untuk melihat kehidupan orang lain lewat sosial medianya. Akan mudah untuk membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. Ada saat nya terbesit, bahwa hidup orang lain, terlihat sangat menyenangkan, tampak selalu bahagia. Ada kalanya, membandingkan apa yang tidak kita punya, dengan orang lain punya. 

Pada akhirnya, kita merasa hidup kita ndak cukup bikin kita bahagia. Dan akhirnya kita jadi orang yang ndak bersyukur. 

Padahal apa yang kita lihat, bisa jadi hanya satu episode kehidupan bahagia mereka. Mereka punya episode hampa nya sendiri, hal hal yang bikin mereka kudu sabar tanpa perlu diceritain di media. Atau saat saat gagal dimasa lampau, dan kita hanya tau saat sekarang ketika mereka sampai pada kehidupan yang lebih baik. 

Saya suka baca baca blog teman teman blogger, dan sempat amaze bagaimana pencapaian blogger tersebut yang mungkin banget bikin iri. Sampai suatu saat, blogger tersebut cerita kalau dirinya iri dengan pencapaian teman temannya yang lain. Hmm, semua orang ternyata sama kok, tapi tindakan selanjutnya mungkin yang bikin beda. 

Hidup dengan sosial media, banyak yang bisa kita ambil. Melihat apa apa yang mereka capai, bikin semangat, bahwa impian juga kudu dikejar. Bahwa semuanya punya kehidupan berliku dan naik turunnya masing masing. Bahwa apa yang kita liat disosmed, hanya sebagian hal yang mereka alami. Bahwa semuanya bisa jadi manusiawi, mereka pernah merasa kurang, merasakan saat saat down,  dan saat saat merasa gagal. 

Cukup untuk tidak membandingkan apapun, kita punya kehidupan yang harus dijalani sendiri, dengan tantangan yang berbeda. 

Kita nggak bisa memaksakan celana yang sama untuk ukuran tubuh kita yang berbeda. Apa yang kita punya sekarang, apa yang kita hadapi sekarang mungkin memang keadaan yang sesuai porsinya untuk kita hadapi dan dijalani. 

Hmm, yang kacamata yang harus kita pakai saat melihat kehidupan orang lain adalah salah satu wasiat rasulullah. Salah satu dari 7 wasiat rasulullah bilang, untuk urusan dunia, kita harus melihat ke bawah, karena dengan melihat kebawah akan semakin banyak syukur. Semakin banyak syukur, semakin allah beri nikmat yang bertambah tambah. 

Simple Relieved from Influenza

Saya termasuk tipe orang yang gampang sekali terkena flu. Apalagi ketika aktivitas rutin rasanya ndak habis habis. Ditambah kerja shift yang mengharuskan begadang di malam hari. Olahraga jadi ndak teratur (biasanya juga enggak sih XD), makan jadi seadanya dan saya bukan tipikal yang suka minum vitamin vitamin pil.

Flu sendiri bisa disebabkan karena virus. Karena penyebabnya virus, umumnya akan sembuh sendiri asalkan kita memberikan kondisi yang baik untuk imun berkerja.salah satunya istirahat yang cukup dan makan yang makanan yang menunjang. Jika parah dan tidak membaik, memang harus perlu ke dokter ya.

Keluarga saya, bukan keluarga yang suka minum obat. Biasanya kami lebih suka segala sesuatu yang sifatnya alami. Berhubung saya dan adek saya sering banget flu ( adek saya memang sensitif dan punya rinitis alergi jadi sering pilek pilek), ibu saya selalu menyediakan jeruk lemon dan jahe.

Minggu kemarin memang ada beberapa hari yang cukup padat. Ditambah dua shift malam berturut turut. Ditambah lagi, kebetulan saya makan makanan yang yang nggak sehat. jarang makan buah dan sayur.
Ya bisa diprediksi tubuh saya drop, mulai pusing dan sakit sakit di sendi (salah satu gejala infeksi virus). Akhirnya saya istirahat seharian, makan buah dan sayur, bikin sup ayam dan saya bikin minum teh jahe lemon hangat sehari dua kali.

Kalau ada waktu luang, mengobati flu bisa sekalian memanjakan diri XP



cara membuat teh jahe lemon :
1. Bakar 3 cm jahe, kupas dan geprek jahe
2. 1 kantong teh, bisa diganti teh tubruk jika suka
3. 1 slice lemon
4. air panas
5. Gula pasir, bisa diganti gula batu sesuai selera


Untuk sop ayam, saya nemu resep dari blog  mbak alodita . Makanan hangat umumnya akan melegakan tenggorokan, karena salah satu efeknya uuntuk melancarkan dahak. Ketika tenggorokan sudah merasa nggak enak, harus baik baik memilih makanan. Makanan yang salah justru membuat tenggorokan semakin parah. Hindari makan makanan yang berminyak ya.


Bahan bahan :
  • 1 ekor ayam kampung, potong dadu
  • 1 buah jeruk nipis atau ¼ jeruk lemon, untuk menghilangkan rasa amis
  • 700-800 mL air matang (tergantung selera)
  • 2 buah wortel
  • 1 buah kentang
  • 2 siung bawang mewah, potong halus
  • 1 siung bawang putih, potong halus
  • 1 tangkai daun bawang (ambil tangkainya saja)
  • 2 sendok teh garam (bisa ditambahkan sesuai dengan selera – kalau saya lagi mengurangin garam jadi dikit aja hehe)
  • ½ sendok teh gula pasir
  • 1 batang seledri

Step by step :
  1. Bersihkan ayam dan lumuri dengan perasan jeruk nipis/lemon. Diamkan hingga 15 menit agar bau amisnya hilang. Cuci kembali ayam lalu tiriskan.
  2. Siapkan panci besar dan rebus air. Jika air sudah mendidih, masukkan ayam, bawang putih dan bawang merah, rebus hingga matang.
  3. Tambahkan kentang dan wortel, masak hingga empuk. Walaupun kaldu ayam sudah gurih, pemanis alami sop ayam adalah wortel.
  4. Tambahkan batang daun bawang dan seledri, supaya sop ayam lebih gurih dan wangi.
  5. Lalu tambahkan garam, gula dan merica sesuai dengan selera (pakai feeling aja). Jangan lupa dicicipi ya!
  6. Sebelum disajikan batang daun bawang dan seledri bisa dikeluarkan dari panci. Hidangkan selagi hangat.

Untuk tahu lebih lanjut soal influenza, bisa cek influenza by cdc . Info ini semoga berguna untuk orang tua, karena umunya anak anak nggak bisa secara jelas bilang ketika sakitnya cukup parah.

Selamat menikmati hujan di bulan oktober, dan jaga kesehatan keluarga :)

Holiday List, Imogiri

        Pindah di tempat yang baru, dan penyesuaian yang baru lagi, mungkin bisa jadi hal yang cukup bikin stres, apalagi memulai pekerjaan baru yang ndak kalah banyak tekanannya. Di fase fase ini, alhamdulillah tetep dikasih banyak kesempatan buat ngasih jeda, buat “bernafas”.

        Tapi punya liburan cukup lama, biasanya cukup membuat saya bingung juga. Libur tanpa planning akan bikin banyak penyesalan karena rasanya cepet banget, dan berakhir di rumah, sama gadget, sama film, sama kasur. Hehehe, menurut saya nggak hidup. Akhirnya, saya banyak bikin janji janji buat diri saya sendiri untuk beberapa hal simple, seperti harus pergi ke alam setidaknya sekali, beberapa hal soal ibadah yang kacau kalau pas nggak libur, olahraga buat badan yang melebar karena makan nggak sehat, atau ngabisin waktu sama orang orang yang bikin kangen selama perantauan XD. Nulis ini juga salah satu janji saya, harusnya liburan lalu hehehe

         Salah satu holiday list saya setiap libur adalah jalan jalan ke alam, percaya, lebih menarik daripada pergi ke mall. Sebelum libur, saya udah janjian sama temen sma saya, yang sama sama suka alam, dan selalu kangen buat jalan jalan lagi. Sebelumnya, kami sudah jalan jalan bareng ke Banyuwangi ( ke ijen, Baluran dan sekitaranya), ke Bromo, dan beberapa pantai di Jogja. Dan semoga berlanjut sampai nemu partner jalan jalan pribadi buat seumur hidup #eaa


          Hari sabtu, temen saya A, sengaja menginap di rumah, karena pengen berburu sunrise ke Imogiri (ceritanya), yang berakhir kesiangan, bukan karena telat bangun, tapi aktivitas pagi yang nggak bisa dicepetin. Nggak sempet makan apa apa, Cuma sempet bawa botol minum dan beberapa pisang dan crackers. Menurut saya, Jalan jalan lebih berkesan bawa bekal sendiri, sesederhana apapun bekalnya. 

Jalan jalan ke daerah gunung paling enak naik motor, jalannya sudah teduh, udaranya sejuk bikin bersyukur
                Destinasi pertama adalah kebun buah mangunan, berharap bisa liat kelokan awan yang membentuk sungai, karena memang pemandangan utama disana adalah gardu pandnag dengan gunung gunung dan sungai yang membelah diantaranya. Tapi ternyata kami kepagian, alhasil penuh kabut dan yang bisa dilihat adalah kabut, dan kabut. Mungkin kami bisa menunggu, tapi dengan kondisi disana yang penuh orang, dan melihat kondisi kabut yang tidak berkurang, bahkan semakin tebal, akhirnya kami memutuskan tidak menunggu. hmm, semakin membuktikan saya kurang beruntung dengan pemnadangan pagi. 
  
Pemandangan dari gardu pandang. Mataharinya yang sembunyi samar samar, tetep berasa pagi yang benar benar harus disyukuri. Biasanya ndak merhatiin, tiba tiba keluar rumah sudah siang.

Akhirnya kami lanjut ke hutan pinus, karena kami harus makan karena lapar, hmm kami doyan makan dan nggak diet :D





Bekal kami

             Selesai dari hutan pinus, kami lanjut ke tempat wisata baru, yang bahkan masih menunggu peresmian dari dinas pariwisata, Puncak Becici. Puncak Becici ini sebenernya sebuah puncak dipinggir tebing, dengan pemandangan bukit bukit sekitarnya yang hijau. Ada beberapa gubuk untuk duduk dan tempat berfoto di atas pohon, ala ala kali suci. 


Jalan menuju puncak Becici yang masih diperbaiki, jalannya cukup licin terutama sehabis hujan, karena tanahnya seperti tanah liat.
Pemandangan dari puncak Becici, meskipun sudah beranjak siang, masih sejuk kok. Jangan kaget kalau bawannya ngantuk dan pengen tidur.

No filter, pemandangan di belakang memang bagus banget.
Masih banyak surga di Jogja yang belum dikunjungi, mungkin nggak akan habis karena ada lagi dan lagi. Hmm, pasti jadi tempat yang ngangenin 






Malam takbiran dan insya allah sholat ied pertama ndak bareng bapak, ibu sama adek.

Alhamdulillah masih bisa ndenger takbiran :)

Ndak papa

Ada kalanya, saat menginginkan sesuatu saat itu juga. Sangat sangat ingin sampai semua daya sudah diupayakan, tapi ndak ada artinya kalau allah belum ridho.

Ya sudah ndak papa,
Mungkin allah akan mengganti waktunya dengan yang lebih baik :)

Jangan sampai, waktu kita sia sia, karena niat kita yg salah.

Terima kasih banyak sudah menempatkan saya di sini ya allah,

Happiness is

Bisa sedekah senyum setiap pagi disambi kuvs. Ngucapin selamat pagi, dan disenyumin balik. Bisa dapet cerita macem macem walaupun diawali sekedar nanya kabar, dari yang cuma jawab sekedarnya sampe curhat anak dan keluarganya.

Happiness is. .

Masih bisa bersyukur meskipun lagi terasa sempit.

Selamat pagii :)

Dua bulan ini pasiennya cewek semuaaa...tebak lagi di departmen apaa?

Cerita ini, kebetulan dibaca pas pagi pagi, sambil sarapan.
Bagus banget, sampai sampai brangkat koas sambil "mbrambangi ".

Kisah dari kejadian nyata

Aku sudah lulus dari kuliah dan sudah mendapatkan pekerjaan yang bagus.

Lamaran kepada diriku untuk menikah juga mulai berdatangan, akan tetapi aku tidak mendapatkan seorangpun yang bisa membuatku tertarik.

Kemudian kesibukan kerja dan karir memalingkan aku dari segala hal yang lain. Hingga aku sampai berumur 34 tahun.

Ketika itulah aku baru menyadari bagaimana susahnya terlambat menikah.

Pada suatu hari datang seorang pemuda meminangku. Usianya lebih tua dariku 2 tahun. Dia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Tapi aku ikhlas menerima dirinya apa adanya.

Kami mulai menghitung rencana pernikahan. Dia meminta kepadaku photo copy KTP untuk pengurusan surat-surat pernikahan. Aku segera menyerahkan itu kepadanya.

Setelah berlalu dua hari ibunya menghubungiku melalui telepon. Beliau memintaku untuk bertemu secepat mungkin.

Aku segera menemuinya. Tiba-tiba ia mengeluarkan photo copyan KTPku. Dia bertanya kepadaku apakah tanggal lahirku yang ada di KTP itu benar?

Aku menjawab: Benar.

Lalu ia berkata: Jadi umurmu sudah mendekati usia 40 tahun?!

Aku menjawab: Usiaku sekarang tepatnya 34 tahun.

Ibunya berkata lagi: Iya, sama saja. Usiamu sudah lewat 30 tahun. Itu artinya kesempatanmu untuk memiliki anak sudah semakin tipis. Sementara aku ingin sekali menimang cucu.

Dia tidak mau diam sampai ia mengakhiri proses pinangan antara diriku dengan anaknya.

Masa-masa sulit itu berlalu sampai 6 bulan. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi melaksanakan ibadah umrah bersama ayahku, supaya aku bisa menyiram kesedihan dan kekecewaanku di Baitullah.

Akupun pergi ke Mekah. Aku duduk menangis, berlutut di depan Ka'bah. Aku memohon kepada Allah supaya diberi jalan terbaik.

Setelah selesai shalat, aku melihat seorang perempuan membaca al Qur'an dengan suara yang sangat merdu. Aku mendengarnya lagi mengulang-ulang ayat:

(وكان فضل الله عليك عظيما)

"Dan karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar". (An Nisa': 113)

Air mataku menetes dengan derasnya mendengar lantunan ayat itu.

Tiba-tiba perempuan itu merangkulku ke pangkuannya. Dan ia mulai mengulang-ulang firman Allah:

(ولسوف يعطيك ربك فترضي)

"Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas". (Adh Dhuha: 5)

Demi Allah, seolah-olah aku baru kali itu mendengar ayat itu seumur hidupku. Pengaruhnya luar biasa, jiwaku menjadi tenang.

Setelah seluruh ritual umrah selesai, aku kembali ke Cairo. Di pesawat aku duduk di sebelah kiri ayahku, sementara disebelah kanan beliau duduk seorang pemuda.

Sesampainya pesawat di bandara, akupun turun. Di ruang tunggu aku bertemu suami salah seorang temanku.

Kami bertanya kepadanya, dalam rangka apa ia datang ke bandara? Dia menjawab bahwa ia lagi menunggu kedatangan temannya yang kembali dengan pesawat yang sama dengan yang aku tompangi.

Hanya beberapa saat, tiba-tiba temannya itu datang. Ternyata ia adalah pemuda yang duduk di kursi sebelah kanan ayahku tadi.

Selanjutnya aku berlalu dengan ayahku.....

Baru saja aku sampai di rumah dan ganti pakaian, lagi asik-asik istirahat, temanku yang suaminya tadi aku temui di bandara menelphonku. Langsung saja ia mengatakan bahwa teman suaminya yang tadi satu pesawat denganku sangat tertarik kepada diriku. Dia ingin bertemu denganku di rumah temanku tersebut malam itu juga. Alasannya, kebaikan itu perlu disegerakan.

Jantungku berdenyut sangat kencang akibat kejutan yang tidak pernah aku bayangkan ini.

Lalu aku meminta pertimbangan ayahku terhadap tawaran suami temanku itu. Beliau menyemangatiku untuk mendatanginya. Boleh jadi dengan cara itu Allah memberiku jalan keluar.

Akhirnya.....aku pun datang berkunjung ke rumah temanku itu.

Hanya beberapa hari setelah itu pemuda tadi sudah datang melamarku secara resmi. Dan hanya satu bulan setengah setelah pertemuan itu kami betul-betul sudah menjadi pasangan suami-istri. Jantungku betul-betul mendenyutkan harapan kebahagiaan.

Kehidupanku berkeluarga dimulai dengan keoptimisan dan kebahagiaan. Aku mendapatkan seorang suami yang betul-betul sesuai dengan harapanku.

Dia seorang yang sangat baik, penuh cinta, lembut, dermawan, punya akhlak yang subhanallah, ditambah lagi keluarganya yang sangat baik dan terhormat.

Namun sudah beberapa bulan berlalu belum juga ada tanda-tanda kehamilan pada diriku. Perasaanku mulai diliputi kecemasan. Apalagi usiaku waktu itu sudah memasuki 36 tahun.

Aku minta kepada suamiku untuk membawaku memeriksakan diri kepada dokter ahli kandungan. Aku khawatir kalau-kalau aku tidak bisa hamil.

Kami pergi untuk periksa ke seorang dokter yang sudah terkenal dan berpengalaman. Dia minta kepadaku untuk cek darah.

Ketika kami menerima hasil cek darah, ia berkata bahwa tidak ada perlunya aku melanjutkan pemeriksaan berikitnya, karena hasilnya sudah jelas. Langsung saja ia mengucapkan "Selamat, anda hamil!"

Hari-hari kehamilanku pun berlalu dengan selamat, sekalipun aku mengalami kesusahan yang lebih dari orang biasanya. Barangkali karena aku hamil di usia yang sudah agak berumur.

Sepanjang kehamilanku, aku tidak punya keinginan mengetahui jenis kelamin anak yang aku kandung. Karena apapun yang dikaruniakan Allah kepadaku semua adalah nikmat dan karunia-Nya.

Setiap kali aku mengadukan bahwa rasanya kandunganku ini terlalu besar, dokter itu menjawab: Itu karena kamu hamil di usia sudah sampai 36 tahun.

Selanjutnya datanglah hari-hari yang ditunggu, hari saatnya melahirkan.

Proses persalinan secara caesar berjalan dengan lancar. Setelah aku sadar, dokter masuk ke kamarku dengan senyuman mengambang di wajahnya sambil bertanya tentang jenis kelamin anak yang aku harapkan.
Aku menjawab bahwa aku hanya mendambakan karunia Allah. Tidak penting bagiku jenis kelaminnya. Laki-laki atau perempuan akan aku sambut dengan beribu syukur.

Aku dikagetkan dengan pernyataannya: "Jadi bagaimana pendapatmu kalau kamu memperoleh Hasan, Husen dan Fatimah sekaligus?

Aku tidak paham apa gerangan yang ia bicarakan. Dengan penuh penasaran aku bertanya apa yang ia maksudkan?

Lalu ia menjawab sambil menenangkan ku supaya jangan kaget dan histeris bahwa Allah telah mengaruniaku 3 orang anak sekaligus. 2 orang laki-laki dan 1 orang perempuan.

Seolah-olah Allah berkeinginan memberiku 3 orang anak sekaligus untuk mengejar ketinggalanku dan ketuaan umurku.

Sebenarnya dokter itu tahu kalau aku mengandung anak kembar 3, tapi ia tidak ingin menyampaikan hal itu kepadaku supaya aku tidak merasa cemas menjalani masa-masa kehamilanku.

Lantas aku menangis sambil mengulang-ulang ayat Allah:

(ولسوف يعطيك ربك فترضى)

"Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas". (Adh Dhuha: 5)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

(وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا )

"Dan bersabarlah menunggu ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami..." (Ath Thur: 48)

Bacalah ayat ini penuh tadabbur dan penghayatan, terus berdoalah dengan hati penuh yakin bahwa Allah tidak pernah dan tidak akan pernah menelantarkanmu.

Panik

Mengendalikan masalah apapun harus diawali dengan Mengendalikan diri, usahakan tenang tidak panik atau emosional, perbanyak zikir atau doa.
Aa gym

Dikirimi sms ini ketika panik dipanggil ujian
Ini cuma contoh,
Ndak usah ngeluh pun, Allah sudah tau apa yang dirasakan hambanya, yang paling cepat dan tanggap ngasih tangan tanganya dari mana aja.

Jangan takut, dimanapun kapanpun, Allah yang paling tau yang kamu butuhkan  :)

Turning Point

This is my turning point.
My friend said in her blog.

Umur 20tahunan.
Akan banyak hal tentang mencari.
Mencari jati diri, mencari profesi, mencari teman hidup juga misalnya #hihihi
dan, semuanya akan dimulai dengan pertanyaan kenapa? Kenapa saya harus milih ini, kenapa saya harus di sini? kenapa saya harus capek capek disini?

Bisa jadi, akan ada orang yang membuat jalannya cukup mengalir. Tanpa banyak pertanyaan, cukup jalan saja, cukup diangkat saja kakinya.

Setelah bertanya tanya kenapa. Saya sudah sampai disini. Saya harus melangkah kemana lagi, saya ambil jalan yang mana. Akhirnya saya ketemu jawabannya.

"Asalkan Dia suka, asalkan Dia ridho, jadi saya akan ambil jalan itu."

Turning point.

dari tumblr :)









First












Dad is a son’s first hero and a daughter’s first love


Ps : Repost from tumblr )

Ketika para perempuan meributkan siapa cinta pertamanya, tanpa disadari para perempuan sudah memilikinya, tanpa disadari dan tanpa bisa memilih :)

23 yo :))

Saya bersyukur, nikmat-Nya tak pernah lepas dalam waktu 23 tahun.  Dengan banyak kesalahan yang saya perbuat, Dia yang paling setia mendengarkan, kapanpun dimanapun. Sesuka hati saya datang, dan saya sangat menyesal, kadang saya pergi, melupakan.  Dia yang merangkul mimpi-mimpi saya, membuatnya menjadi nyata, walaupun tidak selalu sejalan, mimpi saya tetap terwujud, dengan polesan tangan-tangan Nya, dan menjadi beginilah saya sekarang. Dan saya maasih saja bersyukur, karena sampai detik ini, Dia membiarkan saya memiliki pagi dengan mimpi-mimpi baru.
Seharusnya saya tidak harus bersedih, dengan berkurangnya umur ini, semakin berkurang akan semakin dekat pertemuan dengan Nya, begitu bukan?
Tapi saya tidak percaya diri untuk yang satu ini, apa saya sesungguhnya benar benar ditrima oleh Nya? Atau saya hanya bertepuk sebelah tangan, a'udzubillahimindzalik..
Harapan saya, jangan pernah acuhkan saya. Plis..
Itu akan menjadi hal yang paling menyedihkan, jika tujuan saya pergi, lantas saya harus kemana?

Akan segera menjadi 23 tahun, kesempatan datang kembali, semoga saya semakin berlari,
Terima kasih banyak, sudah memberikan banyak hadiah orang-orang terbaik disekitar saya, setiap hari :)

Engkau, wahai dzat yang sangat mengerti bagaimana saya, tidak ada lagi yang saya minta, lebih dari cukup untuk hari hari kemarin, Terima kasih telah membiarkan saya tertawa, tersenyum, kadang mengeluh, kadang menangis, bersemangat, kecewa, patah hati, jatuh cinta, rasa nyaman, rasa aman, kasih sayang,  rasa lapar dan haus, Terimakasih untuk profesi yang banyak menyadarkan saya, terima kasih untuk tidak membiarkan saya jauh di negeri sakura, Terima kasih untuk mebiarkan saya utuh sampai detik ini, Terima kasiiiih. I love you so much in my '23' Years Old :))

Contemplation

"My name is Cassie, I am 23 years old. I graduated as a qualified nurse this year and was given my first position as a home nurse.

My patient was an English gentleman in his early 80s who suffered from Alzheimer’s. In the first meeting, the patient was given his record and from it I could see that he was a convert to the religion of Islam, therefore he was a Muslim.

I knew from this that I would need to take into account some modes of treatment that may go against his faith, and therefore try to adapt my care to meet his needs. I brought in some ‘halal’ meat to cook for him and ensured that there was no pork or alcohol in the premises as I did some research which showed that these were forbidden in Islam.

My patient was in a very advanced stage of his condition so a lot of my colleagues could not understand why I was going through so much effort for him. But I understood that a person who commits to a faith deserves that commitment to be respected, even if they are not in a position to understand.

Anyway after a few weeks with my patient I began to notice some patterns of movement.

At first I thought it was some copied motions he’s seen someone doing, but I saw him repeat the movement at particular time; morning, afternoon, evening.

The movements were to raise his hands, bow and then put his head to the ground. I could not understand it. He was also repeating sentences in another language, I couldn’t figure out what language it was as his speech was slurred but I know the same verses were repeated daily.

Also there was something strange, he didnt allow me to feed him with my left hand (I am left-handed).

Somehow I knew this linked to his religion but didn’t know how.

One of my colleagues told me about paltalk as a place for debates and discussions and as I did not know any Muslims except for my patient I thought it would be good to speak to someone live and ask questions. I went on the Islam section and entered the room ‘True Message’.

Here I asked questions regarding the repeated movements and was told that these were the actions of prayer. I did not really believe it until someone posted a link of the Islamic prayer on youtube.

I was shocked.

A man who has lost all memory of his children, of his occupation, and could barely eat and drink was able to remember not only actions of prayer but verses that were in another language.

This was nothing short of incredible and I knew that this man was devout in his faith, which made me want to learn more in order to care for him the best I could.

I came into the paltalk room as often as I could and was given a link to read the translation of the Quran and listen to it.

The chapter of the ‘Bee’ gave me chills and I repeated it several times a day.

I saved a recording of the Quran on my iPod and gave it to my patient to listen to, he was smiling and crying, and in reading the translation I could see why.

I applied what I gained from paltalk to care for my patient but gradually found myself coming to the room to find answers for myself.

I never really took the time to look at my life; I never knew my father, my mother died when I was 3, me and my brother were raised by our grandparents who died 4 years ago, so now its just the two of us.

But despite all this loss, I always thought I was happy, content.

It was only after spending time with my patient that felt like I was missing something. I was missing that sense of peace and tranquility my patient, even through suffering felt.

I wanted that sense of belonging and a part of something that he felt, even with no one around him.

I was given a list of mosques in my area by a lady on paltalk and went down to visit one. I watched the prayer and could not hold back my tears.

I felt drawn to the mosque every day and the imam and his wife would give me books and tapes and welcome any questions I had.

Every question I asked at the mosque and on paltalk was answered with such clarity and depth that could do nothing but accept them.

I have never practiced a faith but always believed that there was a God; I just did not know how to worship Him.

One evening I came on paltalk and one of the speakers on the mic addressed me. He asked me if I have any questions, I said no. He asked if I was happy with the answers I was given, I said yes.

He asked then what was stopping me accepting Islam, I could not answer.

I went to the mosque to watch the dawn prayer. The imam asked me the same question, I could not answer.

I then went to tend to my patient, I was feeding him and as I looked in his eyes I just realized, he was brought to me for a reason and the only thing stopping me from accepting was fear…. not fear in the sense of something bad, but fear of accepting something good, and thinking that I was not worthy like this man.

That afternoon I went to the mosque and asked the imam if I could say my declaration of faith, the Shahadah.

لا إله إلا الله محمد رسول الله (lā ʾilāha ʾillà l-Lāh, Muḥammadun rasūlu l-Lāh)

There is no god except Allah, Muhammad is Allah’s messenger.

He helped me through it and guided me through what I would need to do next.

I cannot explain the feeling I felt when I said it.

It was like someone woke me up from sleep and sees everything more clearly.

The feeling was overwhelming joy, clarity and most of all…. peace.

The first person I told was not my brother but my patient.

I went to him, and before I even opened my mouth he cried and smiled at me.

I broke down in front of him, I owed him so much.

I came home logged on to paltalk and repeated the shahadah for the room.

They all helped me so much and even though I had never seen a single one of them, they felt closer to me than my own brother.

I did eventually call my brother to tell him and although he wasn’t happy, he supported me and said he would be there, I couldn’t ask for any more.

After my first week as a Muslim my patient passed away in his sleep while I was caring for him. Inna lillahi wa inna ilayhi rajioon.

He died a peaceful death and I was the only person with him.

He was like the father I never had and he was my doorway to Islam.

From the day of my Shahadah to this very day and for every day for as long as I live, I will pray that Allah shows mercy on him and grant him every good deed I perform in the tenfold.

I loved him for the sake of Allah and I pray each night to become an atoms weight of the Muslim he was.

Islam is a religion with an open door; it is there for those who want to enter it…. Verily Allah is the Most Merciful, Most Kind. “

* note * Our sister Cassie passed away October 2010 Inna lillahi wa inna ilayhi rajioon, after she gave da’wa to her brother, who had accepted Islam Alhamdulillah

Banyak ekspresi dan cara mengungkapkan rasa kangen dan rasa bersyukur memiliki.
Tapi hal paling romantis adalah dengan mendoakannya.

Saya salut dengan teman teman saya yang ikhlas menjalani hidupnya meski sulit. Menerima dengan lapang meski sempit.
Sayangnya cuma doa yang saya titipkan lewat ibadah ibadah yang belum sempurna.
Saya cuma bisa diam diam kagum mengamati betapa hati hati kalian bersinar.
Pasti sulit menempa dan membentuknya, cobaan cobaan yang kalian alami dengan sabar meski tertatih, proses penerimaan yang lebih lama.

Saya malu berhadapan dengan kalian kawan. Semoga diberi kesempatan berproses menjadi hati seindah kalian.

Semoga jalan jalan kalian dimudahkan:)

Adab tidur

Perkara ini kita lakukan setiap hari. Dan amazing sekali sebenarnya kegiatan ini. Alam ini sedikit berbeda dari biasanya dan sering memberi pelakunya waktu untuk berimajinasi.

Tidur, semuanya juga doyan. Apalagi yang lagi jaga, kompaklah setuju. #sabar ya yang lagi jaga
Dan erat hubungannya dengan dua ibadah yang amazing juga, tahajud dan sholat subuh.

Seandainya kegiatan ini berurutan, alangkah indahnya kalau dimulai dengan niat dan cara yang baik.

Caranya mudah kok, ndak butuh lebih dari 10 menit sebelum memulainya.

1. Tidurlah lebih awal, dan bangun di sepertiga malam terakhir.
Buat apa? Sholat tahajud. Amalan luar biasa, waktu waktu begitu dekatnya untuk mengadu, lapor, curhat, meminta sama Allah.

2. Berwudhu terlebih dahulu.
Tidur dalam keadaan suci. Sekaligus jika allah berkenan menghapus dosa dosa kita.

3. Posisi Kepala berada di utara, kaki di selatan. Menghadap ke kanan.

Menghadap ke kiri akan menekan jantung, dan terlentang akan memberi beban pada punggung.

4. Berdoa. Doa mau tidur, 3 surat alquran terakhir ( al falaq, al ikhlas, an nass) dan ayat qursi.

Semoga tidur kita dijaga allah. Pun jika kita berpulang di saat tudur, semoga dalam keadaan baik.

Selamat malam :)

#boleh revisi kalau ada kelalaian. Karena dibuat saat insomnia, mohon dimaafkan :)


Bahagia Itu Sederhana

3 hari yang lalu
Mendengar istri mengomel di rumah, berarti aku masih punya keluarga.

Mendengar suami masih ngorok di sebelahku berarti aku masih punya suami.

Mendengar ayah dan ibu menegurku dengan tegas berarti aku masih punya orang tua.

Merasa lelah dan pegal linu setiap sore, itu berarti aku mampu bekerja keras.

Membersihkan piring dan gelas kotor setelah menerima tamu di rumah, itu berarti aku punya teman.

Pakaianku terasa agak sempit, itu berarti aku makan cukup.

Mencuci dan menyetrika tumpukan baju, itu berarti aku memiliki pakaian.

Membersihkan halaman rumah, jendela,
memperbaiki talang dan selokan air, itu berarti aku memiliki tempat tinggal.

Mendapatkan banyak tugas yang merepotkan, itu berarti aku dipercayai dapat melakukannya.

Mendapatkan rekan kerja/bisnis yang mengesalkan menandakan karier/bisnis ku masih bergerak dan hidup.

Mendapatkan banyak komplain dari customer kita menandakan bahwa customer kita masih ada, masih loyal dan menginginkan kita menuju perubahan ke arah lebih baik.

Mendengar nyanyian suara yang fals, itu berarti aku bisa mendengar.

Mendengar bunyi jam alarm di pagi hari, itu berarti aku masih hidup.

Akhirnya banyak hal yang dapat kita syukuri setiap hari.

Berhenti mengeluh dan bersyukurlah. Bersyukur dalam setiap keadaan meski tak ada alasan untuk bersyukur sekalipun.

Repost ntah orang bijak darimana
Sejatinya kita punya waktu banyak untuk bersyukur. Untuk merenung. Saya pikir, tidak ada habisnya alasan untuk bersyukur selama kita masih hidup. Karena bernafas, berdetak, bergerak, melihat, mendengar, dan aktifnya milyaran sel ditubuh ini ada disetiap detik. Kurang apa lagi meen..

Lebih capek mana, mengeluh dengan berayukur? Sama sama berucap, sama sama kerjanya neuron motorik nervus tujuh, area broca wernicke daaan hati.

Pagi ini saya mengeluh kedinginan karena ac kereta. Kemarin saya mengeluh kepanasan karena ac kereta mati.

See..

Mau dikasih keinginan saya atau ndak, saya tetap ndak bersyukur.
Jadi bagaimana kalau sekarang dbalik,

mau dikasih keinginan saya atau ndak saya tetap bersyukur

Selamat pagi

Kita memang tidak pernah dituntut untuk menjadi perfect. Karena hanya satu orang yang mungkin bisa.

Tapi saya dengar, kita dituntut untuk menjadi "tidak apa adanya".

Menerima apa adanya membuat berhenti memperbaiki diri, membuat merasa tinggi hati.

Jadi jangan berpuas diri ya cin, selalu bisa lebih baik setiap harinya :)

Jangan lupa tetap bersyukur setiap menit setiap detik tidak ada habisnya nikmat yang diberikan. Berlipat lipat betapa baiknya sang penyayang :)